Annyeong haseyo : D! kali ini aku mau berbagi fanfic. Fanfic hampir sama kaya cerpen tapi disini melibatkan bias kita sebagai castnya. Dari pada lama lama ayo kita liat : D. Oh iya lupa! mian kalau ada salah kata di ff aku ini ^_^ maklum baru belajar..... Cekidot
Oh iya dilarang copypaste yah.... kalau mau minta ijin dulu :)
gomawo !! tinggalkan jejakmu di post komen ya
Oh iya dilarang copypaste yah.... kalau mau minta ijin dulu :)
gomawo !! tinggalkan jejakmu di post komen ya
Don’t Touch My Girl
Cast :
No Min Woo ‘Boyfriend’
Jo Kwang Min ‘Boyfriend’
Jo Young Min ‘Boyfriend’
Kim Dong Hyun ‘Boyfriend’
Hyun Seong ‘Boyfriend’
Lee Jeong Min ‘Boyfriend’
Sulli ‘f(x)’
Suzy ‘Miss A’
Yoona ‘SNSD'
Kahi ‘After School’
Sulli ‘f(x)’
Suzy ‘Miss A’
Yoona ‘SNSD'
Kahi ‘After School’
<< Bandara Internasional Seoul
Min Woo
baru saja sampai di Seoul, Korea Selatan. Dia baru saja menyelesaikan studynya
di Amerika. Karena ia anak dari direktur perusahaan ternama di Korea, maka
namanya tidak asing lagi bagi orang lain.
“Kau tau ayahku dimana?” tanya Min Woo pada salah satu
pengawalnya.
“Tuan sedang ada urusan penting, jadi beliau tidak
dapat hadir disini”
“Selalu saja begitu!” ucap Min Woo marah.
Dia
melangkahkan kakinya menuju mobil mewah berwarna hitam yang ia beli dengan
penghasilannya sendiri. Selain menjalani studynya di Amerika, Min Woo
juga berusaha mendapatkan penghasilan sendiri dengan membuka web shop di
internet.
Min Woo _part_
Aku
merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Kasur empuk dan lembut ini sudah
menjadi kasur yang penuh dengan pengalaman. Dulu, aku dan ayah bermain disini.
Sekarang semua hanyalah kenangan, aku hidup di kesendirian dimana ayahku
sendiri pun hampir tak memperdulikanku. Tiba tiba I-phoneku berbunyi, dan
kulihat sms dari Kwang Min.
“Bisakah kau menemuiku sekarang? Aku rindu padamu hyung”
Tubuhku yang lelah ini akhirnya bangun dari kasur yang
empuk itu. Mengambil jasku yang telah aku lemparkan ke kursi tadi. Ada yang
membuatku merasa resah saat ingin menemui Kwang Min, yaitu yeoja yang
bernama Sulli.
Kwang Min _part_
Ku
harap Min Woo tidak kaget saat ku bilang, aku dan Sulli pacaran. Aku tau dulu
dia mengharapkan yeojaku ini, tapi Sulli sudah terlanjur sakit atas
sikap Min Woo yang dingin. Hanya Yoona yang mengerti perasaan Min Woo. Dan
Yoona juga ternyata menyukainya. Dulu aku juga menyukai Yoona, tapi sekarang
aku memiliki Sulli. Yeoja yang aku pilih dengan penuh rasa kasih sayang.
“Waeyo, chagi?” tanya yeojaku itu.
“Anio..” ucapku pelan.
“Kau yakin akan menemui Min Woo?”
“Ya tentu saja. Kau mau ikut?”
“Kurasa tidak. Aku lebih baik pergi bersama Kahi ke
toko bunga siang ini”
“Kau mau memberikanku bunga?” tanyaku menggodanya.
“Huh! Babo! Tentu saja tidak, bunga itu untuk
menghiasi kamarku!”
“Tega sekali kau ini”
“Hahaha.. anio chagi! Aku hanya bercanda. Titip
salam pada hyungmu ya?”
“Nae, Chagi! Apa tidak ada yang ingin kau
berikan padaku?” tanyaku penasaran.
“Ani.. memangnya kau mau apa?”
“Opseoyo! Lupakan itu!”
“Hmm.. kau ini, ya sudah selamat bersenang senang namjaku!
Annyeong!!”
“Nae”
Melihat
punggungnya yang kecil itu pergi akupun tersenyum. Aku selalu bersyukur dan
merasa beruntung memilikinya. Dia baik dan perhatian padaku. Entah ungkapan apa
yang harus aku perdengarkan untukknya. Yang jelas aku mencintainya.
Sulli _part_
Aku
pergi meninggalkan namjaku disebuah apartemen di lantai 5. “Mianhae
Kwang Min, sebenarnya aku masih belum melupakan Min Woo” ucapku dalam hati. Aku
ingin kau tau tapi aku tak tega melihat wajahmu yang sedang terluka. Dan aku
juga tau dulu kau menyukai yeoja itu. Karena kau tau dia menyukai Min
Woo kau melepaskannya dan melupakan perasaanmu terhadap yeoja itu. Aku
berpikir, mungkin jika aku melakukan hal yang sama dengan Kwang Min aku akan
bahagia. Akhirnya memang benar, aku bersamanya sungguh bahagia. Tapi, ada saat
dimana aku merasakan penyesalan di dalam hati kecilku.
Taxi
pun datang menghampiriku. Aku segera naik dan duduk didalam. Menunggu taxi ini
membawaku ke rumah Kahi, sahabatku. Ku harap dia berada dalam posisi yang
memungkinkanku untuk menceritakan semua masalah ini padanya.
>>> Kahi’s Home
“Sulli? Kau lama sekali!” ucap Kahi ketus padaku.
“Hehe.. mianhae Kahi, aku menemui namjaku
dulu tadi”
“Semakin lekat saja hubunganmu dengan namja
itu. Tidak ada masalah kan?”
“Tidak. Malah berjalan lancar, tapi ada satu masalah
yang ingin aku ceritakan”
“Hmm.. aku mengerti. Masuklah akan kubuatkan teh hijau
untukmu”
“Gomawo”
Kahi
meninggalkanku di ruang tamu yang luas nan indah. Kahi adalah cucu dari ketua salah
satu perusahaan yang terkenal di Korea, jadi pantas saja gaya hidupnya agak
mewah. Walaupun sebenarnya Kahi tidak ingin ditakdirkan jadi orang kaya. Malah
dia pernah bepikir “Jika aku adalah rakyat biasa, aku tidak akan terjebak di
dalam pusaran angin yang sangat membingungkan ini”. Ya begitulah Kahi.
Menyesali apa yang sudah terjadi, tapi itu hanya berlaku pada saat dia sedang
sedih.
Min Woo _part_
Di
sudut Cafe Coffee ini aku duduk. Menikmati sejuknya udara segar dari alam,
sambil menunggu pesananku datang. Tak lupa juga aku menunggu namdongsaengku
disini. Tak lama kemudian aku melihat seorang namja mendekatiku. Dan kulihat
dia, tak salah lagi itu Kwang Min. Dia memang selembut dulu, selalu saja datang
dengan senyuman.
“Sejak kapan hyung menungguku disini?” tanya namdongsaengku
ini.
“Tidak lama, sekitar 30 menit” jawabku.
“Aighoo! Mianhae hyung! Aku sedikit terlambat”
“Ghwenchanayo namdongsaeng”
“Gomawo hyung. Kau baru saja pulang kan?”
“Nae, sekitar pukul 8 pagi tadi aku sampai di
Seol”
“Apa studymu di Amerika menyenangkan?”
“Tentu saja. Disana aku belajar banyak hal, dan aku
juga membuat web shop”
“Jeongmal? Aku ingin menemanimu sewaktu kau
disana hyung”
“Kau ini selalu bersikap seperti anak kecil”
Aku
ingin menanyakan yeoja itu pada Kwang Min. Tapi kurasa dia
menyembunyikan sesuatu dariku. Apa benar kau dan yeoja itu pacaran?
“Kwang Min, aku ingin menanyakan sesuatu padamu”
“Mwo, hyung?”
“Kau dengan yeoja itu pacaran?”
“Mw..mwo? hyu,,hyung tau dari mana?”
Dalam
sekejap hatiku menjadi kosong, tak kusangka bahwa kabar itu benar adanya. Namdongsaengku,
kenapa kau berpacaran dengannya? Padahal aku masih menyukainya. Ingin aku
memarahimu, tapi aku tidak berhak melakukannya. Karena yeoja itu bukan
pacarku. Perasaan menyesalku tumbuh lagi, kenapa aku menyianyiakan yeoja
itu dulu?. Bukan maksudku menghindari pernyataan cintanya tapi aku tidak ingin
dia disentuh oleh laki laki manapun. Sekarang pun aku tak tau harus bilang apa.
Lalu suara Kwang Min mengagetkanku.
“Hyung!! Hyung!! Kau melamun?”
“Mwo namdongsaeng? Ah! Mianhae! Aku
sedang tidak sehat hari ini”
“Kalau hyung sakit kenapa datang kesini?
Harusnya kan pergi ke dokter”
“Ani, namdongsaeng! Ghwenchanayo!”
“Mianhae hyung!”
Katanya
barusan membuatku kaget mendengarnya. Apakah dia mau mengakui semuanya. Semua
yang terjadi 2 tahun yang lalu saat aku tak ada?.
“Waeyo? Kau tidak melakukan kesalahan apapun”
“Aku dan Sulli... memang sudah berpacaran”
“Jeongmal? Oh aku senang mendengarnya namdongsaengku!
Congrat!”
“Hyung.. apa kau tidak marah padaku?”
“Mwo? Marah? Untuk apa? Aku kan kakakmu, aku
tidak boleh
memarahimu”
“Tapi hyung, aku merasa tidak enak hati padamu”
“Nae. Ghwenchanayo namdongsaeng! Fighting!”
“Nae hyung” ucapan akhir Kwang Min sambil
menunduk padaku.
Aku
sengaja menutupi rasa sakit hati dan kecewa ini. Demi melihat namdongsaengku
bahagia, biarlah dia dulu yang merasakan bahagianya cinta.
Kwang Min _part_
Aku
tidak tau lagi harus berbuat apa, jadi aku ceritakan terus terang saja pada hyungku
itu. Daripada aku melukainya lebih jauh, lebih baik melukainya sekarang. Tapi
luka itu akan segera hilang! Aku yakin itu.
“Hyung, Sulli memberikan salam padamu” ucapku
pelan.
“Jeongmal? Hmm.. nae aku terima
salamnya. Sampaikan salam balikku juga”
“Nae, hyung. Em.. apa hyung hari ini tidak ada
acara?”
“Kurasa tidak. Tunggu sebentar aku akan melihat
jadwalku dulu”
“Nae”
Hyungku
memang sibuk. Apalagi ayahnya, hyung dan ayahnya benar benar mirip. Tapi
terkadang hyung menunjukkan wajah kesepiannya padaku, itu
membuatku sedih juga.
“Mianhae, namdongsaeng. Aku ada jadwal pukul 4
nanti. Lain kali saja ya?”
“Hmm.. arasseo hyung! Eh, sekarang sudah jam
setengah empat sore hyung!”
“Joengmal?? Aigoo!! Aku harus cepat cepat pergi
sebelum terlambat!”
“Nae, hyung. Biar aku yang bayar semuanya”
“Gomawo namdongsaeng! Aku pergi dulu ya! Annyeong!!”
Aku
tersenyum melihat kepergian hyungku itu, meninggalkanku sendiri di kursi
ini. Tapi aku merasa bahagia melihat hyungku yang sekarang. Hangat,
penuh kasih sayang dan bertanggung jawab. Tak lupa juga, dia tambah keren bila
dilihat dari dekat. Aku sedikit iri padanya.
>> 2 hari kemudian..
Suzy _part_
Pagi
ini aku pergi mengunjungi sahabat lamaku, Yoona. Aku ingin segera menemuinya,
karena aku sudah kangen sekali padanya. Dia sangat berharga bagiku, hanya dia
satu satunya anggota keluarga dalam hidupku sekarang.
“Kau mau berangkat sekarang?” tanya seorang namja
padaku.
“Nae, mwo? Kau tidak suka aku pergi?” jawabku
pada namja itu.
“Anio.. aku hanya bertanya. Ini pukul 9 tepat
loh”
“Ghwenchanayo! Dia sudah bangun pukul 8 tepat, hyung!”
Ya, namja
itu adalah kakakku. Namanya Kim Donghyun. Bukan kakak kandungku sih, aku
diadopsi oleh keluarga kakakku ini. Mereka sangat baik padaku, tidak ada
perhatian khusus antara aku dan kakakku, aku juga jadi punya adik.
“Arasseo. Kau pasti sangat merindukannya?”
“Nae, hyung! Sangat sangat merindukannya! Sudah
1 tahun tak jumpa”
“Sudahlah! Sana pergi!”
“Nae! Aku pergi dulu hyung! Annyeong!”
Ku
kayuh sepeda baruku yang kubeli bersama hyungku tersayang. Ya meskipun
bukan kubeli dari uangku sendiri tapi aku senang. Hanya saja mereka membelikan
sepeda yang terlalu bagus untukku, jadi aku selalu hati hati saat memakainya.
Tak terasa aku sudah sampai di rumah Yoona. Rumahnya yang sekarang terasa berbeda,
rumah ini penuh dengan pepohonan, aku menyukainya.
“Annyeong hasseo!!” ucapku di depan pintu
rumahnya.
“Nae. Eh? Suzy?? Sejak kapan kau... waa!! Aku
rindu sekali padamu!!”
Yoona
memelukku dengan erat. Tak kusangka dia merindukanku juga.
“Aku juga, Yoona. Oh iya, ammamu dimana? Aku
ingin bertemu?”
“Amma, sedang pergi ke London. Dia ingin
belajar mendesain pakaian disana”
“Oh.. arasseo, Yoona. Ottokhe jhinaeseyo?”
“Jhal jhinaeyo, Suzy. Bagaimana denganmu?”
“Sama denganmu”
“Syukurlah kalau begitu. Oh iya, kau mau minum apa?”
“Aku ingin capucinno saja”
“Nae, akan kubuatkan untukmu. Tunggu sebentar
ya?”
“Nae”
Aku
sedikit iri dengan Yoona, sahabatku ini. Dia mempunyai keluarga yang hangat,
meskipun tanpa appa dia tetap tegar. Sedangkan aku? Aku hanya bisa
menangis dan mencoba untuk sedikit lebih tegar dalam menghadapi masalah maupun
tekanan batin yang aku alami. Aku harap Yoona tidak merasakan apa yang aku
rasakan.
>>> rumah Min Woo
Minwo
duduk didekat jendela. Melihat pemandangan alam yang indah dari lantai atas
kamarnya. Ayah Min Woo memang sangat kaya, jadi jangan aneh jika Min Woo
memiliki rumah sendiri. Tapi sekarang dia berada di rumah appanya.
“Tuan muda!” suara ketukan pintu yang diketuk oleh
salah seorang pelayan.
“Mwo? Masuk saja”
“Nae. Tuan menyuruhku memanggil tuan muda”
“Hm.. baiklah. Aku segera turun. Tunggu sebentar”
“Baik”
Min Woo
menghela nafas panjang. Dia berpikir apa yang akan appanya katakan
padanya. Apakah tentang perjodohan lagi? Dia merasa bosan dengan perilaku
appanya yang seperti itu. Dia sudah cukup dewasa untuk memilih pasangan
hidupnya sendiri.
Dia
pergi menuju ruangan appanya yang amat luas itu. Memasuki ruangan appanya,
membuat dia tidak enak hati. Serasa ada makhluk aneh di dekat appanya,
karena appanya juga sedikit humoris.
“Waeyo appa memanggilku?” tanya Min Woo pada appanya.
“Duduklah, Min Woo. Ayah ingin kau mendengar sesuatu
yang penting”
“Nae, appa” Min Woo pun duduk di kursi ayahnya.
“Kau sudah menemukan tempat kerja yang bagus?”
“Mwo? Tempat kerja? Appa, aku sedang
menikmati usahaku di web shop!”
“Nae, ayah mengerti. Tapi kau tidak akan selalu
bergantung pada usahamu itu?”
“Aku tau itu, appa. Tapi ini hidupku! Aku ingin
menjalaninya sendiri”
“Hmm.. kau memiliki pendirian yang teguh, anakku”
“Mw..mwo?”
“Ayah tak habis habisnya menyuruhmu ini dan itu. Dan
kau mempertahankannya”
“Jadi appa tidak akan menyuruhku mencari tempat
kerja lagi kan?”
“Tidak, nak. Terserah padamu, dan juga pasangan
hidupmu kau pilih sendiri”
“Jeongmal, appa? Ohh aku senang sekali!! Kamshamnida
appa!”
“Nae. Min Woo”
To Be Continued.... ^^
kalau mau dilanjutin banyak banyak komen ya :) kamsahamnida udah mampir di blog sederhanaku ini.




